Satu lagi film drama komedi aksi berjudul Potong Bebek Angsa siap menjumpai penonton pada 27 Desember ini. Film produksi Falcon Pictures yang disutradarai Alyandra dan Hilman Mutasi sebagai Co-director itu, sebagaimana komedi kebanyakan, mengalir dengan lancar, dan mudah cerna.
Dalam banyak adegan, film yang dibintangi Ricky Harun, Boy William, Olivia Jensen, Ferry Salim, Dewi Rezer, George Rudy, Oka Sugawa, Max Don dan beberapa nama lainnya itu, memang berhasil menerbitkan tawa. Tapi di banyak adegan lainnya, sebagaimana komedi kebanyakan, film ini bahkan belum berhasil membuat tersenyum penontonnya.
Mengangkat tema cerita yang nyaris sama dengan film Hangover (2009) yang disutradarai Todd Phillips, dan dibintangi Bradley Cooper, Ed Helms, dan Zach Galifianakis. Yang kemudian dilanjutkan di film Hangover Part II (2011), yang juga bergenre komedi, Potong Bebek Angsauntungnya mempunyai cita rasa komedi yang disesuaikan dengan rasa Indonesia.
Meski tentu saja, alur utama cerita film ini, pada awalnya ceritanya, langsung mengingatkan penonton kepada film Hangover dan Hangover Part II. Baru pada pengembangan ceritanya, mempunyai anak ceritanya sendiri.
Dan jika di versi film Hangover ada cameo yang dihadirkan, yaitu mantan Juara Dunia Sejati Mike Tyson. Di film Potong Bebek Angsa, juga hadir beberapa cameo seperti kelompok vokal SuSen atau Super Senior, yang terdiri dari Sule, Parto, Andre, dan kawan-kawannya. Yang juga membawakan lagu "Potong Bebek Angsa", sebagai Original Soundtrack film ini.
Potong Bebek Angsa berpusat pada kisah Sasha (Olivia Jensen), kakaknya Masen (Boy Wiliiam) dan sahabatnya, Otong (Ricky Harun). Mereka terdampar dalam sebuah pesta kostum, hingga teler berat alias hangover. Hingga kesadaran membangunkan kembali rasionalitas mereka keesokan harinya. Dari sinilah, sebagaimana cerita film Hangover, mereka mulai membangun fragmen-fragmen ingatan mereka yang raib entah ke mana, dan apa yang telah mereka perbuat selama kehilangan kesadaran. Hingga sampai membuat mereka hangover di pantai pada keesokan harinya.
Ketika mereka masih membangun kembali memori yang tergerus kealpaan, sekonyong-konyong Gembong Mafia (George Rudi) dan beberapa kaki tangannya, memburu mereka bertiga, dalam keadaan hidup atau mati. Ketika kelintangpukangan belum sirna, atas alasan apa mereka diburu para pencoleng, bandit lainnya dari golongan Mafia Afro-America (Max Don), tak kalah semangatnya hendak menangkap mereka.
Kesilangsengkarutan hendak meloloskan diri dari buruan dari dua kelompok bandit, sambil menyusun memori mereka atas apa yang telah mereka lewati selama mengikuti pesta kostum itulah, yang menjadi jualan utama film ini. Dan sebagaimana film Hangover, ada pemanis persoalan asmara yang diselipkan di film ini.


Posting Komentar